Eksplorasi Anggur Laut, Sebagai Upaya Pemanfaatan Sumberdaya Pesisir

 Anggur Laut (Caulerpa recemosa), Pengeksplorasian Untuk Menemukan Pemanfaatan yang Optimal

Ditulis Oleh    : Wisnu Aditya

Mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan, Universitas Bengkulu


Pendahuluan

Rumput laut adalah sumber daya hayati yang telah dimanfaatkan masyarakat Indonesia sebagai mata pencaharian. Rumput laut merupakan tumbuhan tingkat rendah yang perawakannya relatif sulit dibedakan antar akar, batang dan daunnya. Keseluruhan tubuhnya disebut dengan talus. Rumput laut kaya akan serat, vitamin, dan mineral serta merupakan sumber antioksidan alami yang mudah didapat dan tersedia dalam jumlah cukup melimpah di alam (Ridhowati dan Asnani, 2016).

Anggur laut, juga dikenal sebagai anggur laut atau kaviar hijau, adalah jenis rumput laut yang dapat dimakan yang biasa dikonsumsi dalam bentuk segar atau olahan. Salah satu karakteristiknya adalah sangat mudah rusak dan memiliki umur simpan yang pendek. Untuk mengatasi masalah ini, para peneliti telah mengeksplorasi penggunaan pelapis yang dapat dimakan yang terbuat dari oligochitosan, turunan dari kitosan, untuk memperpanjang umur simpan anggur laut. Dalam sebuah penelitian, berbagai konsentrasi oligochitosan diaplikasikan pada permukaan anggur laut, dan hasilnya menunjukkan bahwa pelapis tersebut memiliki pengaruh yang signifikan terhadap warna, tekstur, aroma, dan berat rumput laut. Penelitian lain mengeksplorasi potensi penggunaan Caulerpa recemosa, sejenis rumput laut yang mirip dengan anggur laut, untuk membuat sup krim instan. Sup tersebut memiliki warna hijau dan aroma rumput laut yang khas, dan ternyata memiliki nilai gizi yang baik dan dapat diterima oleh konsumen (Puspita et al., 2019). 

Anggur laut adalah jenis rumput laut yang dapat dimakan dan memiliki nilai gizi yang baik. Sebuah penelitian menganalisis kandungan nutrisi sup krim instan yang terbuat dari Caulerpa recemosa, sejenis rumput laut yang mirip dengan anggur laut. Sup tersebut ditemukan mengandung air (5,78%), abu (17,82%), protein (5,74%), lemak (17,50%), dan karbohidrat (60,87%). Penelitian lain mengeksplorasi potensi penggunaan oligochitosan, pengawet alami, sebagai pelapis yang dapat dimakan untuk memperpanjang umur simpan Caulerpa lentillifera, jenis rumput laut yang mirip dengan anggur laut. Meskipun penelitian ini tidak secara langsung menganalisis kandungan nutrisi anggur laut, penelitian ini menunjukkan bahwa upaya-upaya sedang dilakukan untuk mempertahankan nilai gizi rumput laut yang dapat dimakan. Secara keseluruhan, anggur laut merupakan sumber makanan bergizi yang kaya akan vitamin, mineral, dan antioksidan (Yudasmara, 2020).

Anggur laut memiliki potensi yang cukup besar di wilayah pesisir karena dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ikan, bahan makanan, dan bahan kosmetik. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk memanfaatkan anggur laut di wilayah pesisir, seperti penelitian tentang pengaruh tepung anggur laut dalam pakan terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan bandeng (Solin, 2019) serta penelitian tentang kinerja pertumbuhan dan dinamika kualitas air pada budidaya anggur laut. Selain itu, pengembangan agromarine tourism berbasis kekuatan potensi ekonomi lokal di darat dan laut juga dapat menjadi alternatif untuk mengembangkan potensi anggur laut di wilayah pesisir. Namun, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengoptimalkan potensi anggur laut di wilayah pesisir (Nugroho, 2022).


ISI

Penelitian oleh Septiyaningrum et al. (2020), menemukan 3 jenis Anggur Laut di Pantai Teluk Sepang, yaitu yaitu Caulerpa taxifolia, Caulerpa racemosa, dan Caulerpa lentillifera. Di Perairan Pantai Teluk Sepang, Caulerpa taxifolia ditemukan di daerah intertidal dan melekat pada substrat terumbu karang yang tergenang air laut. Spesies Caulerpa racemosa hidup menancap atau menempel di substrat dasar perairan laut seperti karang mati, fragmen karang, pasir, dan lumpur. Sedangkan Caulerpa lentillifera umumnya tumbuh pada daerah terumbuh karang, menempel pada substrat karang atau pasir pada kedalaman lebih dari 50 meter dan terkadang juga dapat ditemukan di perairan dangkal.

Anggur laut memiliki potensi untuk dibudidayakan di perairan Indonesia karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan, pangan fungsional, dan obat. Beberapa kegiatan pengabdian kepada masyarakat telah dilakukan untuk memberikan sosialisasi dan pelatihan tentang budidaya anggur laut, seperti pelatihan budidaya anggur laut bagi masyarakat Desa Bolok, Kupang Barat, Nusa Tenggara Timur (Valentine et al., 2021). Selain itu, Indonesia memiliki potensi di sektor perikanan laut dan budidaya, namun perkembangan perikanan masih belum begitu tinggi karena hanya berkontribusi 2,65% dari PDB Indonesia (Arrazy dan Rindi, 2021). Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengoptimalkan potensi budidaya anggur laut di perairan Indonesia dan meningkatkan kontribusi sektor perikanan dan budidaya ikan terhadap PDB Indonesia.

Terdapat beberapa penelitian tentang kinerja pertumbuhan anggur laut pada kondisi yang berbeda, seperti penelitian tentang kinerja pertumbuhan anggur laut yang diberi naungan yang berbeda (Valentine et al., 2021). Penelitian lain menunjukkan bahwa anggur laut, khususnya Caulerpa lentillifera, berpotensi untuk dibudidayakan dan diintegrasikan dengan kegiatan budidaya lainnya, seperti budidaya abalon  . Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan air limbah budidaya abalon terhadap pertumbuhan Caulerpa lentillifera dan penggunaan pupuk pada media air untuk meningkatkan produksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi budidaya Caulerpa lentillifera dengan Haliotis squamata efektif dari segi kuantitas dan kualitas air yang digunakan dalam budidaya terpadu tersebut. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai kondisi budidaya anggur laut di Indonesia saat ini.

Ada beberapa metode untuk mengendalikan suhu air selama budidaya anggur laut. Sebuah studi menemukan bahwa memberikan naungan dapat membantu mencegah paparan sinar matahari yang berlebihan, yang dapat menyebabkan stres dan mempengaruhi metabolisme anggur laut. Studi lain tentang potensi oligochitosan sebagai pelapis anggur laut yang dapat dimakan menemukan bahwa anggur laut dapat disimpan pada suhu kamar (20-25 ° C) setelah dilapisi dengan oligochitosan. Namun, penelitian tersebut tidak menyebutkan suhu air spesifik yang dibutuhkan untuk budidaya anggur laut. Sebuah studi tentang pemetaan suhu permukaan laut di Delta Mahakam, Kalimantan Timur, menunjukkan bahwa pemantauan suhu permukaan laut dapat membantu menentukan potensi perikanan dan budidaya perikanan. Oleh karena itu, pengendalian suhu air dapat dilakukan dengan memantau dan menyesuaikan kondisi lingkungan, seperti memberikan naungan atau menggunakan sistem pendingin, untuk menjaga suhu optimal bagi pertumbuhan dan kualitas anggur laut (Insanu dan Prasetya, 2021).

Ada beberapa tantangan dalam membudidayakan anggur laut di Indonesia. Salah satu penelitian tentang pengelolaan kawasan konservasi laut di Indonesia mengidentifikasi beberapa tantangan, termasuk penegakan hukum yang lemah, sumber daya yang terbatas, serta kurangnya kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam upaya konservasi (Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2021). Penelitian lain mengenai potensi dan tantangan budidaya udang di Indonesia menyebutkan tantangan wabah penyakit, degradasi lingkungan, dan persaingan pasar (Raharjo, 2021). Meskipun studi-studi ini tidak secara khusus menyebutkan budidaya anggur laut, laporan-laporan ini menyoroti tantangan yang lebih luas yang dihadapi industri akuakultur di Indonesia. Selain itu, potensi sektor perikanan di Indonesia belum sepenuhnya terealisasi karena distribusi manfaat yang tidak merata dan pengembangan yang terbatas di beberapa provinsi. . Oleh karena itu, tantangan dalam membudidayakan anggur laut di Indonesia dapat mencakup sumber daya yang terbatas, wabah penyakit, degradasi lingkungan, dan distribusi manfaat yang tidak merata (Arrazy dan Rindy, 2021).

Kesimpulan 

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa anggur laut memiliki potensi ekonomi yang tinggi di Indonesia. Namun, budidaya anggur laut masih terbatas dan pemanfaatannya sebagian besar sebagai makanan segar atau dalam hidangan tradisional. Ada kebutuhan untuk lebih banyak eksplorasi dan pengembangan budidaya anggur laut untuk memastikan ketersediaan dan keberlanjutannya. Industri akuakultur di Indonesia menghadapi beberapa tantangan, termasuk sumber daya yang terbatas, wabah penyakit, degradasi lingkungan, dan distribusi manfaat yang tidak merata. Namun demikian, Indonesia memiliki potensi besar di sektor perikanan, termasuk perikanan laut dan perikanan budidaya. Pemerintah telah menerapkan berbagai peraturan dan kelembagaan untuk mengelola dan menegakkan hukum di sektor kelautan, termasuk perikanan budidaya. Oleh karena itu, eksplorasi anggur laut di Indonesia membutuhkan kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, peneliti, dan masyarakat lokal, untuk memastikan pengembangan dan pemanfaatannya yang berkelanjutan.


Referensi


Antara, K.L., Fadjar, M., dan Setijawati, D. 2022. Analisis Pertumbuhan Caulerpa lentifera yang Terintegrasi dengan Budidaya Haliotis squamataBuletin Oseanografi Marina. 11(3): 347-357. https://doi.org/10.14710/buloma.v11i3.47685

Arrazy, M. dan Rindy, P. 2021. Potensi Subsektor Perikanan Pada Provinsi-Provinsi Di Indonesia . Jurnal Bina Bangsa Ekonomika14(1), 1-13. https://doi.org/10.46306/jbbe.v14i1.24

Insanu, R.K., dan Prasetya, F.V. 2021. Pemetaan Sebaran Suhu Permukaan Laut (SPL) Sebagai Parameter Penentuan Potensi Perikanan Dan Budidaya Di Pesisir Perairan Delta Mahakam, Kalimantan Timur. Elipsoida : Jurnal Geodesi dan Geomatika. 4(1): 1-8. https://doi.org/10.14710/elipsoida.2021.10050

Kementerian Kelautan dan Perikanan. 2021: Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan di Indonesia: Status dan Tantangan. figshare. Book. https://doi.org/10.6084/m9.figshare.13341503.v1

Nugroho, T. 2022. Menumbuhkan Kewirausahaan Sosial Masyarakat Dalam Pembangunan Desa Di Wilayah Pesisir. Policy Brief Pertanian, Kelautan dan Biosains Tropika. https://doi.org/10.29244/agro-maritim.v4.i4.19

Puspita, D., Windu, M., dan Nella, S.R. 2019. Pemanfaatan Anggur Laut (Caulerpa Recemosa) Dalam Pembuatan Sup Krim Instan. Jurnal Teknologi Industri Pertanian29(1). https://doi.org/10.24961/j.tek.ind.pert.2019.29.1.72

Raharjo, Y. 2021. Potensi dan Tantangan Budidaya Udang (Litopenaeus Vannamei) di Indonesia. Proceedings Series on Physical & Formal Sciences. https://doi.org/10.30595/pspfs.v2i.162

Ridhowati, S. dan Asnani. 2016. Potensi Anggur Laut Kelompok Caulerpa Racemosa Sebagai Kandidat Sumber Pangan Fungsional Indonesia. Jurnal Oseana. 41 (4): 50–62.

Septiyaningrum, I., Maya, A.F.U., dan Yar, J. 2020. Identifikasi Jenis Anggur Laur (Caulerpa sp.) Teluk Sepang Kota Bengkulu. Jurnal Perikanan, 10(2): 195-204 https://doi.org/10.29303/jp.v10i2.215

Solin, N. 2019. Pemanfaatan Tepung Anggur Laut (Caulerpa Lentillifera) Dalam Pakan Terhadap Pertumbuhan Dan Kelangsungan Hidup Benih Ikan Bandeng (Chanos-Chanos). ETD Unsyiah.

Valentine, R. Y., Sartika Tangguda, Dimas Rizky Hariyadi, dan I Nyoman Sudiarsa. (2021). Pelatihan Budidaya Anggur Laut (Caulerpa Sp.) Bagi Masyarakat Desa Bolok, Kecamatan Kupang Barat, Ntt. Indonesian Journal of Fisheries Community Empowerment1(2), 103-111. https://doi.org/10.29303/jppi.v1i2.116

Valentine, R.Y., Sudiarsa, I.N., Tangguda, S., dan Hariyadi, D.R. 2021. Kinerja Pertumbuhan Dan Dinamika Kualitas Air Pada Budidaya Anggur Laut (Caulerpa Sp.) Dengan Naungan Berbeda. Jurnal Agroqua: Media Informasi Agronomi dan Budidaya Perairan. 19(1): 15-23. https://doi.org/10.32663/ja.v19i1.1540

Yudasmara, G.A. 2020. Potensi Oligochitosan Sebagai Edible Coating Pada Anggur Laut (Caulerpa Lentillifera). SAINTEK PERIKANAN : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology, 16, 140-144. https://doi.org/10.14710/IJFST.16.2.%25P

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Marine Debris: Isu Pencemaran Global, Dampak dan Solusinya