Marine Debris: Isu Pencemaran Global, Dampak dan Solusinya
Marine Debris : Bahaya dan Solusi
Pendahuluan
Pencemaran marine
debris atau sampah laut merupakan masalah serius yang terjadi di seluruh dunia,
termasuk di Indonesia. Sampah laut dapat berdampak buruk pada keberlangsungan
hidup makhluk laut dan juga dapat mempengaruhi kesehatan manusia yang
mengonsumsi ikan laut yang terkontaminasi. Berdasarkan penelitian yang
dilakukan di pesisir Aceh Barat, komposisi sampah laut yang paling umum adalah
plastik, sedangkan di daerah Banyuwangi, sampah plastik juga menjadi jenis
sampah laut yang paling banyak ditemukan. Selain itu, penelitian di perairan
pantai Minahasa bagian utara menunjukkan bahwa sampah plastik dan karet
merupakan kategori sampah laut yang paling banyak ditemukan. Oleh karena itu,
perlu adanya upaya untuk mengurangi sampah laut dan meningkatkan kesadaran
masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan laut (Faizal et al,
2022).
Berbagai jenis sampah
laut ditemukan di daerah pesisir Indonesia, dengan plastik menjadi jenis yang
paling dominan. Studi yang dilakukan di daerah pesisir Kabupaten Banyuwangi
menunjukkan bahwa plastik adalah jenis sampah laut yang paling dominan
(Nurhayati et al., 2021). Studi lain di perairan pantai Minahasa bagian
utara menemukan bahwa sampah plastik dan karet adalah kategori yang paling umum
ditemukan. Begitu juga dengan studi di pantai Makassar, Sulawesi Selatan,
menunjukkan bahwa plastik dan karet mendominasi sampah laut makro di daerah
tersebut. Sampah laut (marine debris) dapat dibedakan menjadi 2
jenis sampah yaitu sampah organik dan sampah
anorganik. Sampah organik seperti kayu, kertas,
kelapa, daun, akar, kardus, bambu, serabut, untuk
sampah anorganik seperti plastik, botol kaca, busa,
kain, sepatu, pipet, sendal, tutup botol,
tali, pecahan kaca, mainan plastik, stereofoam, dan karet
(Johan et al., 2019). Jenis sampah laut lain yang ditemukan di daerah
pesisir Indonesia meliputi kain, kayu olahan, dan kayu. Studi-studi ini
menekankan perlunya pemantauan dan pengelolaan sampah laut di Indonesia untuk
meminimalkan dampaknya terhadap ekosistem laut dan keberlanjutan sosial-ekonomi
masyarakat (Kusumawati et al., 2018).
ISI
Sampah laut atau marine
debris dapat membahayakan kehidupan laut dan manusia. Sampah plastik, misalnya,
dapat mematikan satwa laut yang memakan atau terperangkap di dalamnya. Marine debris
juga dapat mengganggu ekosistem laut dan mengancam keberlangsungan hidupnya.
Sampah laut dapat masuk ke laut melalui aliran sungai, drainase kota, aktivitas
laut, dan dari para wisatawan. Keberadaan sampah tersebut menjadi ancaman baru
yang sangat berdampak buruk terhadap ekosistem laut dan keberlangsungan sosial
ekonomi masyarakat. Sampah laut dapat terbawa oleh arus laut dan bergerak
mengikuti arah arus laut, sehingga dapat menyebar ke berbagai wilayah perairan
dan pantai (Djaguna et al., 2019).
Sampah laut adalah
semua material berbentuk padatan yang tidak dijumpai secara alami di wilayah
perairan, seperti lautan dan pantai, dan dapat memberikan ancaman langsung
terhadap kondisi dan produktivitas wilayah perairan. Sampah laut terdiri dari
barang-barang yang digunakan oleh manusia dan sengaja dibuang ke laut. Sampah
laut dapat masuk ke laut melalui aliran sungai, drainase kota, aktivitas laut,
dan wisatawan. Sampah laut dapat membahayakan kehidupan laut, seperti
menyebabkan terjebak, tertelan, dan kekurangan oksigen. Sampah laut juga dapat
mengganggu rantai makanan dan habitat organisme laut, yang dapat menyebabkan
penurunan populasi mereka. Sampah laut juga dapat mengancam keberlangsungan
sosial ekonomi masyarakat pesisir. Oleh karena itu, penting untuk mengelola
sampah laut dengan baik dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mencegah
kerusakan lebih lanjut pada ekosistem laut dan keberlangsungan sosial ekonomi
masyarakat (Schaduw et al., 2021).
Marine debris atau
sampah laut di Indonesia berasal dari berbagai sumber seperti sungai, saluran
kota, aktivitas laut, dan wisatawan. Sampah tersebut dapat memasuki laut dan
menjadi ancaman baru yang berdampak buruk pada ekosistem laut dan keberlanjutan
sosial-ekonomi masyarakat. Sampah plastik merupakan jenis sampah laut yang
paling banyak ditemukan di Indonesia, terutama di perairan pesisir dan laut.
Nelayan skala kecil di Jakarta juga mengalami dampak ekonomi akibat sampah
plastik laut yang mengganggu aktivitas penangkapan ikan mereka (Sagita et al.,
2022). Selain itu, pengembangan wisata bahari juga dapat berdampak pada
strategi nafkah nelayan karena adanya rintangan seperti sampah, limbah,
perusakan mangrove, dan batasan akses pesisir. Oleh karena itu, kesadaran
masyarakat akan pentingnya menjaga kualitas lingkungan dan dampaknya terhadap
kegiatan di perairan dan pesisir pantai sangat penting untuk meningkatkan
perhatian terhadap kelautan sebagai sumberdaya alam dan objek kegiatan ekonomi.
Data tentang marine
debris dapat membantu pemerintah dan masyarakat dalam merencanakan strategi
pengelolaan sampah yang lebih baik dan berkelanjutan. Dalam studi di Pantai
Malalayang, Kota Manado, Sulawesi Utara, ditemukan bahwa kondisi sampah pada
bagian darat jauh lebih banyak daripada di laut, dengan total berat sampah pada
bagian darat masih jauh lebih tinggi. Studi lain di Teluk Manado dan sekitarnya
menunjukkan bahwa sampah laut berasal dari sumber berbasis lahan terutama pada
pemukiman padat penduduk. Sampah yang terdampar di sekitar pantai ini diasumsikan
terbawa dari pemukiman warga yang ditandai dengan banyaknya sampah kemasan
produk. Dengan mengetahui jenis dan sumber sampah laut, pemerintah dan
masyarakat dapat merencanakan strategi pengelolaan sampah yang lebih baik dan
berkelanjutan, seperti meningkatkan kesadaran masyarakat untuk membuang sampah
pada tempatnya dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai (Andakke dan
Tarya, 2022).
Ada beberapa solusi
efektif untuk mengurangi sampah plastik di perairan Indonesia. Salah satu
solusinya adalah dengan mempromosikan penggunaan plastik biodegradable yang
terbuat dari budidaya rumput laut. Marine Life Agro-Research & Education
Center (MAREC) di Indonesia berfokus pada penelitian dan budidaya rumput laut
untuk pembuatan plastik yang dapat terurai. Solusi lainnya adalah dengan
memantau dan mengumpulkan data sampah laut di wilayah pesisir dan
mempublikasikan data tersebut untuk meningkatkan kesadaran dan mendukung
pemerintah dalam merencanakan pengelolaan pesisir yang berkelanjutan.
Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan peraturan dalam Peraturan Presiden no.
83 tahun 2018 tentang Pengelolaan Sampah Laut, yang mencakup kompilasi data
dasar dan publikasi sampah laut di seluruh wilayah pesisir Indonesia setiap
tahun. Upaya pengelolaan, termasuk pengumpulan sampah lokal dan sampah laut
secara berkala, juga diperlukan untuk meminimalkan dampak sampah laut terhadap
lingkungan. Selain itu, mengurangi penggunaan plastik konvensional dan
mempromosikan penggunaan tas dan wadah yang dapat digunakan kembali juga dapat
membantu mengurangi sampah plastik di perairan Indonesia (Milenia dan Teh,
2022).
Beberapa solusi untuk
mengatasi pencemaran marine debris adalah dengan melakukan pengurangan
penggunaan plastik konvensional dan beralih ke plastik biodegradable yang dibuat
dari budidaya rumput laut. Selain itu, dapat dilakukan pengumpulan sampah dan
marine debris secara teratur untuk meminimalkan dampaknya pada lingkungan.
Selain itu, dapat mempromosikan penggunaan tas dan wadah yang dapat digunakan
kembali untuk mengurangi sampah plastik. Selain itu, dapat meningkatkan
kesadaran masyarakat tentang masalah pencemaran marine debris dan mengedukasi
orang lain tentang pentingnya pembuangan sampah yang benar dan daur ulang.
Selain itu, dapat mendukung upaya pemerintah dalam mengelola marine debris
dengan memberikan data dan informasi tentang jenis, jumlah, dan berat marine
debris di berbagai daerah. Dalam jangka panjang, perlu adanya kerjasama antara
individu, masyarakat, dan pemerintah untuk mengurangi pencemaran marine debris.
Kesimpulan
Pencemaran marine debris memiliki
dampak yang sangat besar terhadap kelangsungan hidup kehidupan
laut. Sampah laut dapat membahayakan kesehatan dan kehidupan hewan
laut, serta merusak ekosistem laut. Beberapa solusi untuk
mengatasi pencemaran marine debris adalah dengan melakukan
pengurangan penggunaan plastik konvensional dan beralih ke plastik biodegradable
yang dibuat dari budidaya rumput laut. Selain itu, dapat dilakukan
pengumpulan sampah dan marine debris secara teratur untuk meminimalkan
dampaknya pada lingkungan. Selain itu, dapat mempromosikan penggunaan tas dan
wadah yang dapat digunakan kembali untuk mengurangi sampah plastik. Selain itu,
dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang masalah pencemaran marine
debris dan mengedukasi orang lain tentang pentingnya pembuangan sampah yang
benar dan daur ulang. Selain itu, dapat mendukung upaya pemerintah dalam
mengelola marine debris dengan memberikan data dan informasi tentang jenis,
jumlah, dan berat marine debris di berbagai daerah. Dalam jangka panjang, perlu
adanya kerjasama antara individu, masyarakat, dan pemerintah untuk mengurangi
pencemaran marine debris.
Andakke,
J.N., dan Tarya, A. (2022). Variations of Marine Debris In Manado Bay and its
environs. Jurnal Ilmiah PLATAX. 10(2): 224-238https://doi.org/10.35800/jip.v10i2.40841
Djaguna,
A., Pelle, W.E., Schaduw, J.N., Manengkey, H.W., Rumampuk, N.D., dan Ngangi,
E.L. 2019. Identifikasi Sampah Laut Di Pantai Tongkaina Dan Talawaan
Bajo. Jurnal Pesisir Dan Laut Tropis. 7(3): 174-182. https://doi.org/10.35800/jplt.7.3.2019.24432
Faizal I, Anna Z, Utami ST, Mulyani PG, Purba
NP. Baseline Data Of Marine Debris In The Indonesia Beaches. Data Brief. 2022
Jan 25;41:107871. doi: 10.1016/j.dib.2022.107871. PMID: 35198662; PMCID:
PMC8841578.
Ikbal,
M.I., Yumanrdi, A., Wahyono, T., Rosidin, R., & Untari, D.T. 2021. Urgency
Pengelolaan Potensi Bahari Berdasarkan Undang- Undang Nomer 27 Tahun 2007
Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil. Jurnal
Kajian Ilmiah. 21(4) : 427-432 https://doi.org/10.31599/jki.v21i4.938
Johan,
Y., Person, P.R., Dewi, P., Ali, M., dan Pinsi, H. Jenis dan Bobot Sampah Laut
(Marine Debris) Pantai Panjang Kota Bengkulu. Jurnal Enggano, 4(2):
243-256 https://doi.org/10.31186/jenggano.4.2.243-256
Kusumawati, I., Mita, S., dan Inseun, Y.S.
2018. Identifikasi Komposisi Sampah Laut di Pesisir Aceh. Jurnal Perikanan
Tropis. 5(1): 59-69 https://doi.org/10.35308/jpt.v5i1.1026
Milenia,
T.M., & Teh, S.W. (2022). MARINE AGRO-RESEARCH & EDUCATION
CENTER. Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa).
3(2): 2261-2268 https://doi.org/10.24912/stupa.v3i2.12485
Nurhayati,
E., Tangahu, B.V., Mahardini, I.R., Berlianto, M., dan Yuliawati, A.A. 2021.
Marine Debris Monitoring In The Coastal Area Of The District Of Banyuwangi,
Indonesia: Characterization Of The Debris Type And Composition. IOP
Conf. Ser.: Earth Environ. Sci. 799 012039. DOI: 10.1088/1755-1315/799/1/012039
Sagita,
A., Sianggaputra, M.D., & Pratama, C.D. 2022. Analisis Dampak Ekonomi
Sampah Plastik Laut Terhadap Aktivitas Nelayan Skala Kecil Di Jakarta. Buletin
Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. 8(1) : 1-11.
Schaduw,
J. N. W., Bachmid, F., Ronoko, S., Legi, K., Oroh, D., Gedoan, V., dan Tungka,
A. (2021). Karakteristik Sampah Laut Pada Daerah Pesisir Pantai Malalayang Kota
Mando Provinsi Sulawesi Utara. Jurnal Ilmiah PLATAX, 9(1): 89-99. http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/platax
Tahir,
A., Werorilangi, S., Isman, F.M., Zulkarnaen, A., Massinai, A., & Faizal,
A. 2019. Short-Term Observation On Marine Debris At Coastal Areas Of Takalar
District And Makassar City, South Sulawesi-Indonesia. Jurnal Ilmu
Kelautan SPERMONDE. 4(2): 48-53. https://doi.org/10.20956/JIKS.V4I2.7061
Komentar
Posting Komentar