Marine Debris: Isu Pencemaran Global, Dampak dan Solusinya

 Marine Debris : Bahaya dan Solusi

Ditulis Oleh    : Wisnu Aditya
Program Studi Ilmu Kelautan, Universitas Bengkulu

   Pendahuluan

    Wilayah pesisir merupakan wilayah yang berada di antara daratan dan laut. Wilayah ini memiliki kekayaan alam yang melimpah, seperti sumber daya ikan, terumbu karang, dan pantai yang indah. Namun, wilayah pesisir juga memiliki tantangan yang besar, seperti erosi pantai, banjir, dan pencemaran laut. Oleh karena itu, pengelolaan wilayah pesisir menjadi sangat penting untuk menjaga keberlangsungan hidup masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut dan menjaga kelestarian alam. Undang-Undang No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil menjadi landasan hukum dalam pengelolaan wilayah pesisir di Indonesia. Selain itu, penelitian-penelitian juga dilakukan untuk memahami berbagai masalah yang terkait dengan wilayah pesisir, seperti stunting pada balita, kesehatan lingkungan, dan status gizi anak. Dengan memahami berbagai masalah yang terkait dengan wilayah pesisir, diharapkan dapat dilakukan upaya-upaya yang tepat dalam pengelolaan wilayah pesisir untuk menjaga keberlangsungan hidup masyarakat dan kelestarian alam (Ikbal et al., 2021).

    Pencemaran marine debris atau sampah laut merupakan masalah serius yang terjadi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Sampah laut dapat berdampak buruk pada keberlangsungan hidup makhluk laut dan juga dapat mempengaruhi kesehatan manusia yang mengonsumsi ikan laut yang terkontaminasi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di pesisir Aceh Barat, komposisi sampah laut yang paling umum adalah plastik, sedangkan di daerah Banyuwangi, sampah plastik juga menjadi jenis sampah laut yang paling banyak ditemukan. Selain itu, penelitian di perairan pantai Minahasa bagian utara menunjukkan bahwa sampah plastik dan karet merupakan kategori sampah laut yang paling banyak ditemukan. Oleh karena itu, perlu adanya upaya untuk mengurangi sampah laut dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan laut (Faizal et al, 2022).

    Berbagai jenis sampah laut ditemukan di daerah pesisir Indonesia, dengan plastik menjadi jenis yang paling dominan. Studi yang dilakukan di daerah pesisir Kabupaten Banyuwangi menunjukkan bahwa plastik adalah jenis sampah laut yang paling dominan (Nurhayati et al., 2021). Studi lain di perairan pantai Minahasa bagian utara menemukan bahwa sampah plastik dan karet adalah kategori yang paling umum ditemukan. Begitu juga dengan studi di pantai Makassar, Sulawesi Selatan, menunjukkan bahwa plastik dan karet mendominasi sampah laut makro di daerah tersebut. Sampah  laut (marine  debris) dapat dibedakan menjadi 2 jenis  sampah  yaitu  sampah  organik  dan  sampah  anorganik. Sampah  organik  seperti kayu,  kertas,  kelapa,  daun,  akar, kardus, bambu, serabut,  untuk  sampah  anorganik  seperti plastik, botol kaca, busa,  kain,  sepatu,  pipet,  sendal,  tutup  botol,  tali,  pecahan  kaca,  mainan plastik, stereofoam, dan karet (Johan et al., 2019). Jenis sampah laut lain yang ditemukan di daerah pesisir Indonesia meliputi kain, kayu olahan, dan kayu. Studi-studi ini menekankan perlunya pemantauan dan pengelolaan sampah laut di Indonesia untuk meminimalkan dampaknya terhadap ekosistem laut dan keberlanjutan sosial-ekonomi masyarakat (Kusumawati et al., 2018).


ISI

    Sampah laut atau marine debris dapat membahayakan kehidupan laut dan manusia. Sampah plastik, misalnya, dapat mematikan satwa laut yang memakan atau terperangkap di dalamnya. Marine debris juga dapat mengganggu ekosistem laut dan mengancam keberlangsungan hidupnya. Sampah laut dapat masuk ke laut melalui aliran sungai, drainase kota, aktivitas laut, dan dari para wisatawan. Keberadaan sampah tersebut menjadi ancaman baru yang sangat berdampak buruk terhadap ekosistem laut dan keberlangsungan sosial ekonomi masyarakat. Sampah laut dapat terbawa oleh arus laut dan bergerak mengikuti arah arus laut, sehingga dapat menyebar ke berbagai wilayah perairan dan pantai (Djaguna et al., 2019).

    Sampah laut adalah semua material berbentuk padatan yang tidak dijumpai secara alami di wilayah perairan, seperti lautan dan pantai, dan dapat memberikan ancaman langsung terhadap kondisi dan produktivitas wilayah perairan. Sampah laut terdiri dari barang-barang yang digunakan oleh manusia dan sengaja dibuang ke laut. Sampah laut dapat masuk ke laut melalui aliran sungai, drainase kota, aktivitas laut, dan wisatawan. Sampah laut dapat membahayakan kehidupan laut, seperti menyebabkan terjebak, tertelan, dan kekurangan oksigen. Sampah laut juga dapat mengganggu rantai makanan dan habitat organisme laut, yang dapat menyebabkan penurunan populasi mereka. Sampah laut juga dapat mengancam keberlangsungan sosial ekonomi masyarakat pesisir. Oleh karena itu, penting untuk mengelola sampah laut dengan baik dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada ekosistem laut dan keberlangsungan sosial ekonomi masyarakat (Schaduw et al., 2021).

    Marine debris atau sampah laut di Indonesia berasal dari berbagai sumber seperti sungai, saluran kota, aktivitas laut, dan wisatawan. Sampah tersebut dapat memasuki laut dan menjadi ancaman baru yang berdampak buruk pada ekosistem laut dan keberlanjutan sosial-ekonomi masyarakat. Sampah plastik merupakan jenis sampah laut yang paling banyak ditemukan di Indonesia, terutama di perairan pesisir dan laut. Nelayan skala kecil di Jakarta juga mengalami dampak ekonomi akibat sampah plastik laut yang mengganggu aktivitas penangkapan ikan mereka (Sagita et al., 2022). Selain itu, pengembangan wisata bahari juga dapat berdampak pada strategi nafkah nelayan karena adanya rintangan seperti sampah, limbah, perusakan mangrove, dan batasan akses pesisir. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kualitas lingkungan dan dampaknya terhadap kegiatan di perairan dan pesisir pantai sangat penting untuk meningkatkan perhatian terhadap kelautan sebagai sumberdaya alam dan objek kegiatan ekonomi.

    Data tentang marine debris dapat membantu pemerintah dan masyarakat dalam merencanakan strategi pengelolaan sampah yang lebih baik dan berkelanjutan. Dalam studi di Pantai Malalayang, Kota Manado, Sulawesi Utara, ditemukan bahwa kondisi sampah pada bagian darat jauh lebih banyak daripada di laut, dengan total berat sampah pada bagian darat masih jauh lebih tinggi. Studi lain di Teluk Manado dan sekitarnya menunjukkan bahwa sampah laut berasal dari sumber berbasis lahan terutama pada pemukiman padat penduduk. Sampah yang terdampar di sekitar pantai ini diasumsikan terbawa dari pemukiman warga yang ditandai dengan banyaknya sampah kemasan produk. Dengan mengetahui jenis dan sumber sampah laut, pemerintah dan masyarakat dapat merencanakan strategi pengelolaan sampah yang lebih baik dan berkelanjutan, seperti meningkatkan kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai (Andakke dan Tarya, 2022).

    Ada beberapa solusi efektif untuk mengurangi sampah plastik di perairan Indonesia. Salah satu solusinya adalah dengan mempromosikan penggunaan plastik biodegradable yang terbuat dari budidaya rumput laut. Marine Life Agro-Research & Education Center (MAREC) di Indonesia berfokus pada penelitian dan budidaya rumput laut untuk pembuatan plastik yang dapat terurai. Solusi lainnya adalah dengan memantau dan mengumpulkan data sampah laut di wilayah pesisir dan mempublikasikan data tersebut untuk meningkatkan kesadaran dan mendukung pemerintah dalam merencanakan pengelolaan pesisir yang berkelanjutan. Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan peraturan dalam Peraturan Presiden no. 83 tahun 2018 tentang Pengelolaan Sampah Laut, yang mencakup kompilasi data dasar dan publikasi sampah laut di seluruh wilayah pesisir Indonesia setiap tahun. Upaya pengelolaan, termasuk pengumpulan sampah lokal dan sampah laut secara berkala, juga diperlukan untuk meminimalkan dampak sampah laut terhadap lingkungan. Selain itu, mengurangi penggunaan plastik konvensional dan mempromosikan penggunaan tas dan wadah yang dapat digunakan kembali juga dapat membantu mengurangi sampah plastik di perairan Indonesia (Milenia dan Teh, 2022).

    Beberapa solusi untuk mengatasi pencemaran marine debris adalah dengan melakukan pengurangan penggunaan plastik konvensional dan beralih ke plastik biodegradable yang dibuat dari budidaya rumput laut. Selain itu, dapat dilakukan pengumpulan sampah dan marine debris secara teratur untuk meminimalkan dampaknya pada lingkungan. Selain itu, dapat mempromosikan penggunaan tas dan wadah yang dapat digunakan kembali untuk mengurangi sampah plastik. Selain itu, dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang masalah pencemaran marine debris dan mengedukasi orang lain tentang pentingnya pembuangan sampah yang benar dan daur ulang. Selain itu, dapat mendukung upaya pemerintah dalam mengelola marine debris dengan memberikan data dan informasi tentang jenis, jumlah, dan berat marine debris di berbagai daerah. Dalam jangka panjang, perlu adanya kerjasama antara individu, masyarakat, dan pemerintah untuk mengurangi pencemaran marine debris.


Kesimpulan

Pencemaran marine debris memiliki dampak yang sangat besar terhadap kelangsungan hidup kehidupan laut. Sampah laut dapat membahayakan kesehatan dan kehidupan hewan laut, serta merusak ekosistem laut. Beberapa solusi untuk mengatasi pencemaran marine debris adalah dengan melakukan pengurangan penggunaan plastik konvensional dan beralih ke plastik biodegradable yang dibuat dari budidaya rumput laut. Selain itu, dapat dilakukan pengumpulan sampah dan marine debris secara teratur untuk meminimalkan dampaknya pada lingkungan. Selain itu, dapat mempromosikan penggunaan tas dan wadah yang dapat digunakan kembali untuk mengurangi sampah plastik. Selain itu, dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang masalah pencemaran marine debris dan mengedukasi orang lain tentang pentingnya pembuangan sampah yang benar dan daur ulang. Selain itu, dapat mendukung upaya pemerintah dalam mengelola marine debris dengan memberikan data dan informasi tentang jenis, jumlah, dan berat marine debris di berbagai daerah. Dalam jangka panjang, perlu adanya kerjasama antara individu, masyarakat, dan pemerintah untuk mengurangi pencemaran marine debris.



Referensi :

Andakke, J.N., dan Tarya, A. (2022). Variations of Marine Debris In Manado Bay and its environs. Jurnal Ilmiah PLATAX. 10(2): 224-238https://doi.org/10.35800/jip.v10i2.40841

Djaguna, A., Pelle, W.E., Schaduw, J.N., Manengkey, H.W., Rumampuk, N.D., dan Ngangi, E.L. 2019. Identifikasi Sampah Laut Di Pantai Tongkaina Dan Talawaan Bajo. Jurnal Pesisir Dan Laut Tropis. 7(3): 174-182. https://doi.org/10.35800/jplt.7.3.2019.24432

Faizal I, Anna Z, Utami ST, Mulyani PG, Purba NP. Baseline Data Of Marine Debris In The Indonesia Beaches. Data Brief. 2022 Jan 25;41:107871. doi: 10.1016/j.dib.2022.107871. PMID: 35198662; PMCID: PMC8841578.

Ikbal, M.I., Yumanrdi, A., Wahyono, T., Rosidin, R., & Untari, D.T. 2021. Urgency Pengelolaan Potensi Bahari Berdasarkan Undang- Undang Nomer 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil. Jurnal Kajian Ilmiah. 21(4) : 427-432 https://doi.org/10.31599/jki.v21i4.938

Johan, Y., Person, P.R., Dewi, P., Ali, M., dan Pinsi, H. Jenis dan Bobot Sampah Laut (Marine Debris) Pantai Panjang Kota Bengkulu. Jurnal Enggano, 4(2): 243-256 https://doi.org/10.31186/jenggano.4.2.243-256

Kusumawati, I., Mita, S., dan Inseun, Y.S. 2018. Identifikasi Komposisi Sampah Laut di Pesisir Aceh. Jurnal Perikanan Tropis. 5(1): 59-69 https://doi.org/10.35308/jpt.v5i1.1026

Milenia, T.M., & Teh, S.W. (2022). MARINE AGRO-RESEARCH & EDUCATION CENTER. Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa). 3(2): 2261-2268 https://doi.org/10.24912/stupa.v3i2.12485

Nurhayati, E., Tangahu, B.V., Mahardini, I.R., Berlianto, M., dan Yuliawati, A.A. 2021. Marine Debris Monitoring In The Coastal Area Of The District Of Banyuwangi, Indonesia: Characterization Of The Debris Type And Composition. IOP Conf. Ser.: Earth Environ. Sci. 799 012039. DOI: 10.1088/1755-1315/799/1/012039

Sagita, A., Sianggaputra, M.D., & Pratama, C.D. 2022. Analisis Dampak Ekonomi Sampah Plastik Laut Terhadap Aktivitas Nelayan Skala Kecil Di Jakarta. Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. 8(1) : 1-11.

Schaduw, J. N. W., Bachmid, F., Ronoko, S., Legi, K., Oroh, D., Gedoan, V., dan Tungka, A. (2021). Karakteristik Sampah Laut Pada Daerah Pesisir Pantai Malalayang Kota Mando Provinsi Sulawesi Utara. Jurnal Ilmiah PLATAX, 9(1): 89-99. http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/platax

Tahir, A., Werorilangi, S., Isman, F.M., Zulkarnaen, A., Massinai, A., & Faizal, A. 2019. Short-Term Observation On Marine Debris At Coastal Areas Of Takalar District And Makassar City, South Sulawesi-Indonesia. Jurnal Ilmu Kelautan SPERMONDE. 4(2): 48-53. https://doi.org/10.20956/JIKS.V4I2.7061

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Eksplorasi Anggur Laut, Sebagai Upaya Pemanfaatan Sumberdaya Pesisir