Eksplorasi Penyu

 Eksplorasi Menakjubkan dalam Dunia Penyu: Keajaiban dan Ancaman

Artikel ini ditulis oleh    :
Wisnu Aditya
Mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Bengkulu

Pendahuluan

    Penyu adalah hewan laut yang keberadaannya semakin terancam karena jumlah populasi yang semakin menurun. Ada 7 jenis penyu di dunia, 6 diantaranya hidup di perairan Indonesia. Penyu merupakan hewan akuatik konservatif yang keberadaannya dilindungi karena jumlah populasi semakin menurun. Penelitian tentang penyu dapat dilakukan dalam berbagai aspek, seperti kesehatan, lingkungan hidup, dan konservasi (Bahri et al., 2022). Sayangnya, penyu masih dieksploitasi oleh manusia, meskipun mereka dilindungi oleh pemerintah. Penting untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya melindungi penyu dan habitatnya, terutama karena beberapa spesies penyu termasuk dalam kategori rentan atau terancam punah (Salim, 2019).
    Penyu memiliki beberapa manfaat bagi ekosistem laut, seperti : 
  1. Penyu membantu menjaga keseimbangan habitat perairan 
  2. Penyu memainkan peran penting dalam rantai makanan, karena penyu merupakan pemangsa sekaligus mangsa.
  3. Penyu membantu mengendalikan populasi ubur-ubur, yang dapat menjadi gangguan bagi manusia dan biota laut lainnya.
  4. Penyu membantu menjaga kesehatan padang lamun, yang menjadi habitat bagi banyak spesies laut lainnya.
  5. Penyu sangat penting dalam siklus nutrisi di ekosistem laut, karena mereka mengangkut nutrisi dari laut ke daratan saat bertelur di pantai.
  6. Penyu juga dapat membantu mengurangi dampak perubahan iklim dengan mengurangi energi gelombang di garis pantai dan menstabilkan sedimen (Jayanti, 2020).
    Dampak penyu terhadap ketersediaan sumber daya laut bagi manusia sangat kompleks dan dapat bersifat positif maupun negatif. Cara penyu mempengaruhi ketersediaan sumber daya laut bagi manusia seperti memainkan peran penting dalam rantai makanan, karena penyu merupakan pemangsa sekaligus mangsa. Ini berarti mereka dapat membantu menjaga populasi spesies laut lainnya yang penting untuk konsumsi manusia, seperti ikan. Namun, penyu sendiri juga dikonsumsi oleh manusia di berbagai belahan dunia, sehingga dapat memberikan tekanan pada populasi penyu dan mengurangi ketersediaannya sebagai sumber makanan (Caron et al., 2017). Penyu juga dapat secara tidak sengaja tertangkap oleh alat tangkap ikan, yang dapat memberikan dampak negatif pada populasi mereka. Penyu yang tertangkap dalam alat tangkap dianggap sebagai ancaman paling serius secara global terhadap megafauna laut yang berumur panjang (Wallace et al., 2013).
    Di sisi lain, upaya pelestarian penyu telah menghasilkan pertumbuhan yang menjanjikan pada beberapa populasi penyu, yang dapat meningkatkan kesehatan ekosistem lamun dengan menghilangkan biomassa lamun dan mencegah pembentukan anoksia sedimen. Hal ini secara tidak langsung dapat menguntungkan populasi manusia yang bergantung pada ekosistem lamun sebagai sumber makanan dan sumber daya lainnya. Namun, peningkatan populasi penyu juga dapat berdampak negatif pada lamun, termasuk memicu keruntuhan ekosistem virtual. Hal ini menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara populasi penyu dan dampaknya terhadap ekosistem lamun (Heithaus et al., 2014).

Isi

    Penyu merupakan hewan dalam kelas reptilia yang masa hidupnya hampir seluruhnya berada di lautan dan termasuk hewan ovipar dan pembuahan telur berlangsung didalam tubuh induk. Penyu merupakan reptil yang hidup di laut serta mampu bermigrasi dalam jarak yang jauh kawasan Samudera Hindia, Samudera Pasifik, dan Asia Tenggara (Apriandini, 2017). Pantai sebagai tempat penyu bertelur memiliki persyaratan umum antara lain mudah dijangkau dari laut, posisinya harus cukup tinggi untuk mencegah telur terendam oleh air pasang dan pasirnya relatif lembut (loose) dan berukuran sedang untuk mencegah runtuhnya lubang sarang pada saat pembentukannya. Pemilihan lokasi ini dimaksudkan agar telur berada dalam lingkungan bersalinitas rendah, lembab dan substrat memiliki ventilasi yang baik sehingga telur-telur tidak tergenang air selama masa inkubasi. Lingkungan yang heterogen dan relatif luas untuk membuat sarang telurnya merupakan karakteristik yang disukai penyu untuk bertelur (Rosalina dan Prihajatno, 2022).

Migrasi penyu adalah perjalanan jarak jauh yang dilakukan oleh penyu dari tempat asalnya ke tempat lain untuk mencari makanan atau untuk bertelur. Penyu betina melakukan migrasi jarak jauh dari tempat makanannya di laut ke pantai untuk bertelur. Setelah bertelur, induk penyu meninggalkan telurnya di pantai dan tidak menjaganya, sehingga telur tersebut rawan terhadap pemangsaAnakan penyu harus berusaha sendiri menuju laut setelah menetas dan perjalanan dari daratan ke laut berisiko tinggi bagi merekaPenyu yang menetas di Indonesia dapat saja dijumpai di negara lain seperti Malaysia atau Australia karena penyu melakukan migrasi lintas negaraHabitat peneluran sangat penting bagi penyu dan pergerakan peneluran penyu hanya bersifat lokal artinya tidak terlalu jauh dari lokasi penelurannya, karena penyu bertelur di satu tempat akan kembali lagi ke tempat awal penelurannyaKondisi fisik pantai seperti suhu pasir yang sesuai, intensitas cahaya rendah, dan kecepatan angin yang tidak terlalu kencang sangat diperlukan untuk mendukung proses bertelur penyuKelangkaan penyu disebabkan oleh banyak faktor, termasuk pemburuan telur penyu, aktivitas di sekitar pantai peneluran, dan perubahan alam yang menyebabkan gangguan hidup habitat penyu (Soetijono, 2019).

    Habitat adalah suatu kesatuan tempat tinggal yang memiliki fungsi bagi organisme untuk mencari makan, minum, berlindung, bermain dan berkembang biak. Habitat merupakan faktor paling penting untuk kehidupan satwa liar dan kualitas habitat berpengaruh langsung terhadap perilaku dan polulasinya. Suatu organisme tidak hanya menduduki ruangan fisik habitat saja, tetapi juga mempunyai peranan fungsional di dalam lingkungannya. Bagaimana organisme tersebut merubah energi yang ada, bertingkah laku dan tangggap terhadap perubahan lingkungan fisik serta biotik dan bagaimana organisme lain menjadi kendala baginya (Riyanto dan Romadhon, 2021). Penyu hidup di perairan laut dan membutuhkan habitat peneluran yang sesuai untuk upaya konservasi. Habitat peneluran penyu biasanya berupa pantai pasir dengan kemiringan landai yang dapat ditemukan di pantai-pantai di Indonesia. Penyu yang akan bertelur biasanya akan memilih lokasi tertentu untuk meletakkan telurnya, yang berkaitan dengan beberapa faktor keamanan telur diantaranya menghindari dari hewan predator pemangsa telur-telur penyu seperti biawak, anjing, babi, rubah, dan semut. Habitat peneluran penyu hijau umumnya memiliki karakteristik fisik pantai yang mendukung proses bertelur penyu hijau seperti rata-rata suhu  20o C-30o C, intensitas cahaya rendah dan kecepatan angin 2,2 knots serta komposisi pasir yang sesuai (Sasaerila et al., 2018).

    Penyu memiliki perilaku dan cara unik untuk berkomunikasi satu sama lain. Penyu dikenal dengan gerakannya yang lambat di darat, tetapi sebenarnya mereka cukup lincah dan cepat di dalam air. Mereka juga dikenal karena kemampuannya menahan napas untuk waktu yang lama, yang memungkinkan mereka untuk tetap berada di bawah air untuk waktu yang lama. Penyu adalah hewan penyendiri, tetapi mereka akan berkumpul bersama selama musim kawin. Penyu betina akan bertelur di darat, biasanya di pantai berpasir, lalu kembali ke air. Penyu juga dikenal dengan naluri mencari tempat tinggal, yang memungkinkan mereka untuk kembali ke pantai yang sama di mana mereka dilahirkan untuk bertelur (Rupilu, 2020). 

    Kura-kura berkomunikasi satu sama lain melalui berbagai cara, termasuk isyarat visual, suara, dan sinyal kimiawi. Mereka menggunakan bahasa tubuh untuk berkomunikasi satu sama lain, seperti menggelengkan kepala atau mengibas-ngibaskan ekor. Kura-kura juga mengeluarkan suara untuk berkomunikasi, seperti mendesis atau mendengus. Mereka juga menggunakan sinyal kimiawi untuk berkomunikasi satu sama lain, seperti feromon yang mengindikasikan kesiapan kawin atau batas-batas teritorial (Lionardi, 2021).

    Upaya konservasi penyu sangat penting untuk menjaga populasi penyu yang saat ini terancam punah. Berbagai metode dan kegiatan konservasi telah dilakukan di berbagai wilayah di Indonesia untuk melindungi penyu dan habitatnya. Berikut ini beberapa upaya konservasi yang telah dilakukan:

  1. Teknis Peneluran Penyu: Melakukan pengamatan dan pencatatan data pendaratan penyu, serta mengidentifikasi jenis penyu yang bertelur di pantai konservasi.
  2. Monitoring: Melakukan kegiatan pemantauan penyu yang bertelur dan proses penetasan telur penyu.
  3. Penyelamatan dan Relokasi Telur Penyu: Melakukan penyelamatan telur penyu yang terancam oleh predator atau kondisi lingkungan yang tidak mendukung, serta merelokasi telur ke tempat yang lebih aman.
  4. Masa Inkubasi: Mengamati dan mencatat masa inkubasi telur penyu hingga menetas menjadi tukik.
  5. Pemeliharaan Tukik Penyu: Merawat tukik penyu yang baru menetas hingga mencapai ukuran yang cukup untuk dilepas ke habitat alaminya.
  6. Pelepasan Tukik Penyu: Melakukan pelepasan tukik penyu ke laut untuk memastikan kelangsungan hidup mereka di alam liar.
  7. Edukasi Pengunjung: Memberikan informasi dan edukasi kepada pengunjung tentang pentingnya konservasi penyu dan bagaimana mereka dapat berpartisipasi dalam upaya konservasi (Rosalina dan Prihajatno, 2022).
  8. Pelatihan Konservasi Penyu: Melakukan pelatihan konservasi penyu bagi masyarakat dan kelompok pelestari penyu, seperti Kobar Lestari di Pantai Barane, Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat (Nur et al., 2022).
  9. Pemberdayaan Masyarakat Nelayan: Melibatkan masyarakat nelayan dalam upaya konservasi penyu, seperti yang dilakukan di Pulau Derawan (Abednego, 2013).
  10. Penggunaan Teknologi: Mengembangkan inovasi seperti "Smart Turtle Egg Incubator" (STUR EGI) yang bertujuan untuk meningkatkan keberhasilan penetasan telur penyu dan menyeimbangkan ekosistem penyu yang hampir punah (Wibawa dan Prianto, 2019).
  11. Willingness To Pay (WTP): Meneliti nilai keinginan membayar masyarakat terhadap konservasi penyu (Siregar et al., 2022).

Kesimpulan

    Eksplorasi penyu dan upaya melestarikannya merupakan topik penting dalam konservasi keanekaragaman hayati. Penyu merupakan salah satu spesies yang terancam punah, sehingga diperlukan upaya konservasi untuk menjaga populasi dan habitat mereka. Beberapa upaya konservasi yang telah dilakukan meliputi teknis peneluran penyu, monitoring, penyelamatan dan relokasi telur penyu, masa inkubasi, pemeliharaan tukik penyu, pelepasan tukik penyu, edukasi pengunjung, pelatihan konservasi penyu, pemberdayaan masyarakat nelayan, penggunaan teknologi, dan kerjasama dengan organisasi internasional seperti WWF (World Wide Fund for Nature)

    Kesimpulannya, eksplorasi penyu dan upaya melestarikannya melibatkan berbagai metode dan kegiatan konservasi yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dan organisasi internasional. Pendidikan karakter dan etnomatematika juga dapat diintegrasikan dalam upaya pelestarian penyu untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi penyu dan mendukung keberhasilan upaya konservasi ini.

Referensi :

Abednego, B. 2013. Identifikasi Pemberdayaan Masyarakatnelayan Dalam Upaya Konservasi Penyu Dikawasan Laut.

Apriandini, N. (2017). Analisis Siklus Reproduksi Penyu Hijau (Chelonia mydas) di Pantai Sindangkerta Kecamatan Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya (Doctoral dissertation, FKIP Unpas).

Bahri, S., Fitriani, F., Berutu, R.A., Suriani, M., Rahmi, M.M., dan Heriansyah, H. 2022. Efektifitas Pemantauan Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) Berbasis Adat Dan Pengaruhnya Terhadap Tingkat Keberhasilan Peneluran Pada Sarang Buatan Di Pantai Panga, Aceh Jaya. Jurnal Laot Ilmu Kelautan. 4(2): 63-71. https://doi.org/10.35308/jlik.v4i2.4822

Caron, C.A., Oehml, N.J., Frank P., Madden, C.J., dan Childers, D.L. 2017. Gulf Estuarine Research Society Spring 1999 Meeting Abstracts. Gulf Research Reports. 11(1): 70-77. https://doi.org/10.18785/grr.1101.10

Heithaus, M.R., Alcoverro, T.,  Arthur, R., Burkholder, D.A., Coates, K.A., Christianen, M.J.A., Kelkar, N., Manuel, S.A.,  Wirsing, A.J., Kenworthy, W.J., dan James W. F. 2014. Seagrasses In The Age Of Sea Turtle Conservation And Shark Overfifishing. Frontiers in Marine Science. 1(28): 1-6.

Jayanti, A.R. 2020. Manfaat Padang Lamun Sebagai Penyeimbang Ekosistem Laut Di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Jurnal Geografi dan Pengajarannya. 18(1): 1-14. https://doi.org/10.26740/jggp.v18n1.p1-14

Lionardi, A. 2021. Perancangan Animasi 2D sebagai Media Edukasi tentang Penyu bagi Anak-Anak. Jurnal Desain Komunikasi Visual Nirmana21(1): 17-28. https://doi.org/10.9744/nirmana.21.1.17-28

Nur, M., Tenriware, T., Lestari, D., Mahfud, C. R., dan Tikawati, T. (2022). Pelatihan Konservasi Penyu Sebagai Biota Perairan Yang Dilindungi Di Pantai Barane, Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat. Selaparang: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan6(4): 1741-1746. https://doi.org/10.31764/jpmb.v6i4.11561

Riyanto, D. K. S., dan Romadhon, A. 2021. Evaluasi Kesesuaian Habitat Peneluran Penyu di Taman Kili-kili Kecamatan Panggul Kabupaten Trenggalek. Juvenil: Jurnal Ilmiah Kelautan dan Perikanan2(2): 98-106. https://doi.org/10.21107/juvenil.v2i2.10653

Rosalina, D., dan Prihajatno, M. 2022. UPAYA KONSERVASI PENYU LEKANG (Lepidochelys Olivacea) DI WILAYAH KONSERVASI EDUKASI MANGROVE DAN PENYU PANTAI CEMARA, BANYUWANGI, JAWA TIMUR. Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia14(1): 1-10. http://dx.doi.org/10.15578/jkpi.14.1.2022.1-10

Rupilu, K. 2020. Pengaruh Energi Gelombang Laut sebelum Musim Peneluran terhadap Perubahan Lokasi dan Tingkah Laku Peneluran Penyu di Pulau Pasir Timbul Kabupaten Halmahera Utara. Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan13(1): 54-59. https://doi.org/10.29239/j.agrikan.13.1.54-61

Salim, E. 2019. Perancangan Kampanye Sosial STOP Mengkonsumsi Penyu di Indonesia (Doctoral dissertation, Universitas Multimedia Nusantara).

Sasaerila, Y., Elfidasari, D., dan Sabil, M. Q. T. 2018. Struktur Vegetasi dan Karakteristik Habitat Peneluran Penyu Hijau (Chelonia mydas) di Kawasan Konservasi Penyu Pangumbahan Sukabumi. Jurnal Al-Azhar Indonesia Seri Sains Dan Teknologi4(1): 36-43. https://doi.org/10.36722/sst.v4i1.249

Siregar, Z., Sari, W., Astari, N. D., dan Syafrizal, S. 2022. Keinginan Membayar (Willingnes To Pay, Wtp) Masyarakat Terhadap Konservasi Penyu Di Kawasan Pantai Lhoknga, Banda Aceh. In Prosiding Seminar Nasional Biotik. 9(2): 12-15. https://doi.org/10.22373/pbio.v9i2.11589

Soetijono, I.K. 2019. Implementasi Perjanjian Internasional Terhadap Upaya Pelestarian Penyu Di Indonesia. Financial Analysts Journal, 17: 147-161. https://doi.org/10.32528/FAJ.V17I2.2800

Wallace, B. P., Kot, C.Y.,  DiMatteo, A. D., Lee, T.,  Crowder, L. B., dan Lewison, R. L. 2013. Impacts of fisheries bycatch on marine turtle populations worldwide: toward conservation and research priorities. Ecosphere 4(3):40. http://dx.doi.org/10.1890/ES12-00388.1

Wibawa, W. A., dan Prianto, E. 2019. “Smart Turtle Egg Incubator”(STUR EGI) Bertenaga Surya untuk Meningkatkan Keberhasilan Penetasan Telur Penyu. Jurnal Edukasi Elektro3(1). https://doi.org/10.21831/JEE.V3I1.26096


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Marine Debris: Isu Pencemaran Global, Dampak dan Solusinya

Eksplorasi Anggur Laut, Sebagai Upaya Pemanfaatan Sumberdaya Pesisir