Sumber dan Dampak Pencemaran Logam Cadmium Terhadap Lingkungan dan Sekitarnya
Artikel ini ditulis oleh :
Wisnu Aditya
Mahasiswa Ilmu Kelautan Universitas Bengkulu
Pendahuluan
Lingkungan laut, khususnya
wilayah pesisir telah mengalami ancaman dari aktivitas manusi secara langsung dan
secara tidak langsung di wilayah hulu. Over Exploitasi telah menyebabkan kerusakan
beberapa ekosistem pesisir seperti ekosistem padang lamun dengan indikator
kelangkaan beberapa biota laut seperti ikan, moluska, sea urchin dan teripang yang
berasosiasi dengan lamun di perairan pesisir Lombok Timur (Syukur et al.,
2016). Ancaman lain terhadap keberlanjutan lingkungan laut, khususnya di wilayah
pesisir adalah masalah pencemaran. Di teluk Bima juga ditemukan adanya kontaminasi
logam berat, ini ditunjukkan oleh hasil penelitian (Khairuddin et al., 2016) yang
menemukan logam berat Kadmium (Cd), Air Raksa (Hg) dan Timbal (Pb) dalam jaringan
bivalvia yang diambil dari sedimen Teluk Bima. Hal ini disebabkan karena lingkungan
laut sebagai muara atau sasaran pembuangan limbah, sehingga mudah tercemari oleh
logam berat seperti merkuri (Hg), timbal (Pb), dan kadmium (Cd).
Polusi adalah keberadaan bahan kimia atau zat lain pada konsentrasi yang lebih tinggi dari batas normal yang memiliki dampak negatif pada makhluk hidup dan lingkungan. Berikut adalah dampak polusi terhadap lingkungan dan organisme hidup:
- Polusi tanah dapat menyebabkan kerusakan pada tanah dan mengurangi kesuburan tanah, sehingga dapat mengganggu pertumbuhan tanaman dan mengurangi hasil panen. Selain itu, polusi tanah juga dapat merusak kualitas air tanah dan mempengaruhi kesehatan manusia yang mengonsumsinya
- Polusi udara dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan seperti iritasi mata, hidung, dan tenggorokan, serta masalah pernapasan seperti asma dan bronkitis. Selain itu, polusi udara juga dapat merusak lingkungan seperti hutan dan lahan pertanian
- Polusi air dapat menyebabkan kerusakan pada ekosistem air dan mempengaruhi kesehatan manusia yang mengonsumsi air tercemar. Polusi air juga dapat mempengaruhi kehidupan organisme air seperti ikan dan tumbuhan air
- Polusi suara dapat menyebabkan gangguan pendengaran, stres, dan masalah kesehatan lainnya. Polusi suara juga dapat mempengaruhi kehidupan hewan seperti burung dan mamalia (Amin, 2021).
Kadmium adalah logam berat yang dapat mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan manusia. Kadmium dapat terdapat dalam air dan tanah akibat aktivitas industri dan pertanian. Pencemaran kadmium adalah masalah serius yang terjadi di banyak negara, termasuk Indonesia. Kadmium adalah salah satu logam berat yang sering ditemukan dalam limbah cair industri dan dapat mencemari air di sekitarnya. Logam berat seperti kadmium bersifat toksik bagi lingkungan, tumbuhan, hewan, dan manusia (Jamalu, 1997).
Kadmium dapat mempengaruhi ekosistem dengan cara mencemari tanah dan air, sehingga dapat membahayakan organisme yang hidup di dalamnya. Kadmium dapat terakumulasi dalam tubuh organisme dan menyebabkan kerusakan pada organ-organ vital seperti ginjal dan hati. Pada pertambangan nikel, kadmium dapat terdapat dalam limbah pertambangan dan mencemari lingkungan sekitarnya (Ardani, 2020). Organisme yang rentan terhadap akumulasi kadmium di dalam tubuh mereka adalah organisme akuatik seperti udang, kerang-kerangan, dan ikan. Selain itu, udang regang (Macrobrachium sintangense) juga dapat terakumulasi kadmium dalam tubuhnya. Konsentrasi kadmium yang tinggi dalam tubuh organisme dapat menyebabkan kerusakan beberapa organ tubuh terutama yang berhubungan dengan bioakumulasi dan biotransformasi dalam tubuh (Harahap, 2022).
Isi
Kadmium dapat mempengaruhi organisme di dalam ekosistem dengan cara terakumulasi dalam tubuh organisme yang hidup di dalam air seperti udang, kerang-kerangan, dan ikan. Jika organisme yang mengandung kadmium dikonsumsi oleh manusia, maka akan berdampak buruk bagi kesehatan yang menyebabkan gangguan pada sistem saraf, tulang, saluran pencernaan, kardiovaskular, sistem reproduksi dan ginjal. Selain itu, kadmium juga dapat menyebabkan kerusakan pada organ-organ vital seperti ginjal dan hati. Pada pertambangan nikel, limbah pertambangan yang mengandung kadmium dapat mencemari lingkungan sekitarnya dan menyebabkan rusaknya komponen ekosistem yang menyebabkan terjadinya gangguan terhadap fungsi ekosistem (Ari et al., 2016).
Logam berat bersifat nonbiodegradable sehingga proses degradasi dan reduksinya tidak semudah mendegradasi limbah organik (Ikerismawati, 2019). Metode remediasi secara fisik kimia mempunyai beberapa kekurangan, seperti biaya instalasi dan operasional yang tinggi, membutuhkan bahan kimia, dan menghasilkan lumpur pada akhir pengolahan yang membutuhkan pengolahan lebih lanjut. Metode lainnya yang bisa dilakukan untuk mengatasi pencemaran air tanah yaitu fikoremediasi. Fikoremediasi merupakan teknik remediasi dengan menggunakan makroalga maupun mikroalga Fikoremediasi yang merupakan alternatif dari bioremediasi dinilai sebagai teknik yang sederhana karena tidak memerlukan teknologi tinggi, biaya yang relatif lebih rendah, mempunyai efisiensi yang tinggi, dan tentunya lebih ramah lingkungan dibandingkan teknik remediasi lainnya (Liwun et al., 2020).
Kadmium adalah logam berat yang dapat mencemari perairan dan berbahaya bagi organisme hidup. Berikut adalah beberapa cara mengatasi pencemaran kadmium di perairan:
- Mengurangi sumber pencemar: Langkah pertama dalam mengatasi pencemaran kadmium di perairan adalah dengan mengurangi sumber pencemar. Hal ini dapat dilakukan dengan membatasi penggunaan pupuk dan pestisida yang mengandung kadmium, serta membatasi pembuangan limbah industri yang mengandung kadmium ke perairan.
- Menggunakan teknologi pengolahan air: Teknologi pengolahan air seperti filtrasi dan osmosis terbalik dapat digunakan untuk menghilangkan kadmium dari air. Teknologi ini dapat digunakan pada skala besar seperti pada instalasi pengolahan air minum, maupun pada skala kecil seperti pada instalasi pengolahan air limbah rumah tangga.
- Menggunakan tumbuhan fitoremediasi: Beberapa jenis tumbuhan seperti eceng gondok dan kangkung dapat digunakan untuk menghilangkan kadmium dari air. Tumbuhan ini dapat menyerap kadmium dari air dan menyimpannya dalam jaringan tanaman. Setelah tanaman mati, kadmium yang terkandung dalam jaringan tanaman akan terkonsentrasi dan dapat diambil untuk diolah lebih lanjut.
- Meningkatkan kesadaran masyarakat: Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya pencemaran kadmium dan cara mengurangi sumber pencemar juga sangat penting dalam mengatasi pencemaran kadmium di perairan. Hal ini dapat dilakukan melalui kampanye sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya pencemaran kadmium dan cara-cara mengurangi sumber pencemar (Indrawati et al., 2022)
Kesimpulan
Pencemaran merupakan masuknya suatu zat ke dalam perairan baik disengaja ataupun tidak. Pencemaran air yang terjadi sering bersumber dari daratan, salah satunya adalah pencemaran logam berat. logam berat berasal dari aktivitas pabrik dan pertambangan serta faktor antropogenik lainnya. Salah satunya adalah pencemaran Kadmium (Cd) yang dapat berdampak terhadap organisme air melalui bioakumulasi sehingga pada saat dikonsumsi manusia dapat berdampak bagi kesehatan. Upaya yang dapat dilakukan dalam mengatasi pencemaran kadmium adalah proses fitoremediasi dengan menggunakan makroalga.
Referensi
Amin,
M. 2021. POLUSI TANAH DAN DAMPAKNYA TERHADAP KESEHATAN MANUSIA. Jurnal
Sumberdaya Lahan. https://doi.org/10.21082/JSDL.V15N1.2021.36-45
Ardani,
N. K. (2020). Pengembangan Instrumen Literasi Humanistik dan Hasil Belajar IPA
Tema Lingkungan Sahabat Kita Kompetensi dasar Menganalisis Siklus Air dan
Dampaknya pada Peristiwa di Bumi dan kelangsungan Makhluk Hidup untuk Siswa
Kelas V SD. PENDASI: Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia, 4(2),
112-121. https://doi.org/10.23887/JPDI.V4I2.3457
Ari,
M.N.F., Kuswanti, N., dan Rachmadiarti, F. 2016. Efek Pemberian Kadmium dan
Salinitas terhadap Akumulasi Kadmium pada Daging Udang Regang [Macrobrachium
sintangense (De Man)].
Harahap,
A.A. 2022. Analisis Unsur Logam Berat Kadmium pada Kerang Darah di Pasar Tradisional
Kota Lhokseumawe. Glosains: Jurnal Sains Global Indonesia. 3(2):
79-85. https://doi.org/10.36418/glosains.v3i2.83
Ikerismawati,
S. 2019. Bioremediasi Pb oleh bakteri indigen limbah cair agar. Jurnal
Biosilampari Bio. 1(2): 51–58, https://doi.org/10.31540/biosilampari.v1i2.288.
Indrawati,
E., Musada, Z., Tantu, A. G., & Renal, R. 2022. Status Pencemaran Logam
Berat Timbal dan Kadmium di Sungai Tallo Menggunakan Bioindikator Ikan Nila
Oreochromis Niloticus. Jurnal Ilmiah Ecosystem, 22(2),
348-361. https://doi.org/10.35965/eco.v22i2.1562
Jamalu,
E.J. (1997). Studi Pendahuluan Pengaruh Sekam Padi Yang Telah Diolah Dengan
Larutan NaOh 3 Terhadap Penjerapan Camuran Logam Berat Kadmium, Raksa Dan
Timbal Dalam Model Air Limbah Industri.
Khairuddin.,
Yamin, M., dan Syukur. A. 2016. Analisis Kualitas Air Kali Ancar dengan Menggunakan
Bioindikator Makro invertebrata. Jurnal Biologi Tropis, 16 (2):10-22. https://doi.org/10.29303/jbt.v16i2.220
Liwun,
R.R., Yulianti, L.I., dan Sidharta, B.R. 2020. Potensi Skeletonema costatum
(Greville) sebagai fikoremediator logam berat timbal (Pb) limbah batik. Jurnal
Ilmu-Ilmu Hayati. 5(1): 16–24. https://doi.org/10.24002/biota.v5i1.2950.
Syukur,
A., Syahrudi, AR., Mahrus. 2016. The potential assessment environment friendly aquaculture
of small-scale fishermen as a conservation strategy seagrass beds in coastal areas
of Tanjung Luar East Lombok, Indonesia. International Journal of Fisheriesand
Aquatic Studies, 4 (2): 22-27.
Komentar
Posting Komentar