Pencemaran Mikroplastik : Sumber, Dampak, dan Pencegahan
Artikel ini ditulis oleh
Wisnu Aditya
Mahasiswa Ilmu Kelautan Universitas Bengkulu
Pendahuluan
Dewasa ini, laut dipenuhi sampah. Sebagian besar berupa plastik, logam, karet, kertas, tekstil, peralatan tangkap, kapal, dan barang-barang lainnya yang hilang atau dibuang dan memasuki lingkungan laut setiap hari menjadi sampah laut atau biasa disebut marine debris. Salah satu sampah laut yang banyak menjadi masalah adalah sampah plastik karena proses degradasinya membutuhkan waktu yang lama. Indonesia saat ini menjadi negara terbesar ke-2 di dunia yang membuang sampah plastik ke lautan (Ayuningtyas et al., 2019).
Mikroplastik berdasarkan proses pembentukannya dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu primer dan sekunder. Mikroplastik primer adalah plastik yang memang memiliki ukuran mikro dan biasanya ditemukan dalam pembersih dan produk kosmetik. Mikroplastik sekunder adalah yang terbentuk dari plastik yang sudah ada di lingkungan dan terfragmentasi menjadi plastik yang lebih kecil menjadi mikroplastik (Ramadan dan Sembiring, 2020). Mikroplastik terdapat bermacam-macamjenis dan bentuk, bervariasi termasuk dalam hal ukuran, bentuk, warna, komposisi, massa jenis, dan sifat-sifat lainnya (Azizah et al., 2020).
Kelimpahan dan distribusi mikroplastik ditentukan oleh faktor lingkungan dan faktor antropogenik. Faktor lingkungan termasuk arus gelombang, pasang surut, siklon, arah angin dan hidrodinamika sungai. Faktor antropogenik meliputi kepadatan penduduk (Kataoka. 2019)
Mikroplastik yang ada biasanya berbentuk fragmen, film, dan fiber. Jenis mikroplastik fiber biasa ditemukan didaerah pinggir pantai, karena sampah mikroplastik ini berasal dari pemukiman penduduk yang memiliki pekerjaan sebagai nelayan. Mikroplastik fiber memiliki ciri ciri yang menyerupai serabut atau jaring nelayan dan apabila terkena lampu ultraviolet akan berwarna biru. Jenis mikroplastik film memiliki ciri ciri yaitu berbentuk seperti lembaran atau pecahan plastik. Film merupakan polimer plastik sekunder yang berasal dari fragmentasi kantong plastik atau plastik kemasan dan memiliki densitas rendah. Mikroplastik fragmen memiliki ciri ciri bentuk berupa pecahan plastik, tidak seperti jenis mikroplastik film yang berbentuk lembaran dan jenis mikropkastik fiber yang berbentuk serabut (Septian, 2014).
Proses degradasi
plastik disebabkan oleh
radiasi sinar UV
yang memicu degradasi oksidatif
pada polimer. Selama berada
tahap degradasi, sampah
plastik memiliki ciri-ciri seperti discolour, menjadi
lebih lunak dan mudah hancur dengan berjalannya waktu. Pengaruh mekanis lainnya yaitu angin, gelombang
laut, gigitan hewan
dan aktivitas manusia yang dapat menghancurkan bentuk plastik
ke dalam bentuk fragmen-fragmen.
Dampak
Mikroplastik lebih banyak ditemukan pada sedimen daripada di habitat muara atau pantai berpasir, pantai dan habitatnya bersifat dinamis sehingga dapat terjadi erosi sedimen yang menyebabkan partikel plastik mengalami pertambahan densitas. Mikroplastik yang mengendap disedimen dan terjadi secara terus-menerus akan menimbulkan akumulasi mikroplastik pada lapisan sedimen yang lebih dalam. Sifat mikroplastik tersebut dapat mengalami perubahan seperti densitasnya, yang disebabkan oleh paparan cahaya matahari yang berkepanjangan di laut, pelapukan, dan biofouling. Dampak bahaya yang ditimbulkan dari kandungan mikroplastik pada sedimen adalah mengenai terganggunya ekologi perairan baik biotik maupun abiotik pada ekosistem. Mikroplastik dengan ukuran khusus dan sifat stabil adalah tempat berkembang biak bagi mikroorganisme dan pembawa polutan (Pan. 2019). Organisme akuatik dapat dengan mudah menelan mikroplastik karena ukurannya yang kecil dan menyerupai larva organisme termasuk plankton (Kataoka. 2019).
Mikroplastik yang telah tersebar pada ekosistem laut, termasuk di daerah seperti kutub akan mempengaruhi organisme laut yang terdapat pada ekosistem tersebut. Pengaruh tersebut antara lain adalah terganggunya penyerapan energi oleh biota, sekresi hormon, laju pertumbuhan, dan kapasitas reproduksi biota. Selain efek yang dapat ditimbulkan oleh mikroplastik terhadap biota, mikroplastik yang dikonsumsi oleh binatang, tidak hanya mempengaruhi biota yang memakannya, tetapi dapat mempengaruhi manusia bila manusia memakan biota yang telah terpapar mikroplastik. Berdasarkan hal tersebut, mikroplastik yang terakumulasi dilaut dapat membahayakan bagi biota laut begitu juga terhadap manusia (Jiang et al., 2017).
Pencegahan
Pencemaran mikroplastik dapat dicegah dengan berbagai upaya seperti pengurangan penggunaan plastik, pengelolaan limbah yang baik, dan penerapan teknologi pengolahan limbah yang ramah lingkungan. Selain itu, ada juga upaya pengembangan alternatif bahan pengganti plastik yang ramah lingkungan, seperti bioplastik. Selain itu, teknologi pengolahan limbah juga dapat membantu mengurangi pencemaran mikroplastik. teknologi pengolahan limbah berbasis mikroorganisme dapat digunakan untuk mengurangi limbah plastik dan menghasilkan produk yang dapat digunakan kembali (Hidayati et al., 2020).
Secara keseluruhan, pencegahan pencemaran mikroplastik memerlukan kerjasama dari semua pihak, termasuk pemerintah, industri, dan masyarakat. Upaya pengurangan penggunaan plastik, pengelolaan limbah yang baik, dan pengembangan alternatif bahan pengganti plastik yang ramah lingkungan dapat membantu mengurangi dampak mikroplastik terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.
Kesimpulan
Mikroplastik merupakan ancaman serius bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Dampak dari mikroplastik sangat kompleks dan belum sepenuhnya dipahami, namun studi dan penelitian telah menunjukkan bahwa mikroplastik dapat mencemari air, tanah, dan udara, serta menimbulkan dampak negatif pada kehidupan laut dan kesehatan manusia. Mikroplastik dapat merusak keanekaragaman hayati di laut dan mengganggu ekosistem laut yang sudah rapuh. Mikroplastik juga dapat masuk ke dalam rantai makanan dan akhirnya berdampak pada kesehatan manusia yang mengonsumsinya. Selain itu, partikel mikroplastik juga dapat mengiritasi saluran pernapasan dan meningkatkan risiko penyakit pernapasan seperti asma.
Upaya pencegahan mikroplastik perlu dilakukan sejak sekarang, baik oleh pemerintah, industri, maupun masyarakat. Dibutuhkan kesadaran dan tindakan nyata untuk mengurangi penggunaan plastik, meningkatkan pengelolaan limbah, serta mengembangkan alternatif bahan pengganti plastik yang ramah lingkungan. Selain itu, penelitian dan pengembangan teknologi pengolahan limbah plastik yang ramah lingkungan perlu terus dilakukan. Dalam rangka mencapai lingkungan yang lebih sehat dan lestari, kolaborasi dan aksi bersama dari semua pihak sangat diperlukan. Dengan upaya yang konsisten dan berkesinambungan, diharapkan kita dapat meminimalkan bahaya mikroplastik dan menjaga keberlanjutan lingkungan serta kesehatan manusia. Namun demikian, perlu diingat bahwa upaya pencegahan dan pengurangan pencemaran mikroplastik tidak boleh berhenti hanya pada tataran individu, namun juga memerlukan tindakan dan dukungan dari pemerintah dan industri untuk mengadopsi kebijakan dan praktek yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
Daftar Pustaka
Ayuningtyas, W. C., Yona, D., Julinda, S. H., dan Iranawati, F. 2019.
Kelimpahan Mikroplastik Pada Perairan Di Banyuurip, Gresik, Jawa Timur. Journal
of Fisheries and Marine Research, 3(1): 41-45.
Azizah, P., Ridlo, A., dam Suryono, C. A. 2020. Mikroplastik pada
Sedimen di Pantai Kartini Kabupaten Jepara Jawa Tengah. Journal of marine
Research, 9(3): 326-332.
Hanif, K. H., Suprijanto, J., dan Pratikto, I. 2021. Identifikasi
Mikroplastik di Muara Sungai Kendal, Kabupaten Kendal. Journal of Marine
Research, 10(1): 1-6.
Hidayati, L., Suryanti, S., dan Ardiansyah, F. 2020. Pengelolaan Sampah
Plastik di Indonesia: Kebijakan dan Praktik. Jurnal Lingkungan dan
Pembangunan, 18(1): 14-26.
Jiang, C., Yin, L., Wen, X., Du, C., Wu, L., Long, Y., Liu, Y., Ma, Y.,
Yin, Q.,Zhou, Z. dan Pan, H. 2018. Microplastics in Sediment and Surface Water
of West Dongting Lake and South Dongting Lake: Abundace, Source
and Composition. International Journal
of Environmental Research
and Public Health., 15: 1-15.
Kataoka, T. 2019. Assessment Of The Sources And Inflow Processes Of
Microplastics In The River Environments Of Japan. Environmental Pollution,
244: 958–965.
Kershaw, P., 2015. Sources, Fate And Effects Of Microplastics In The
Marine Environment: A Global Assessment. International Maritime
Organization.
Pan, Z. 2019. Microplastics in the Northwestern Pacific: Abundance, distribution,
and characteristics. Science of the Total Environment, 650: 1913–1922.
Ramadan, A. H. dan Sembiring, E. 2020. Occurrence of Microplastic in
surface water of Jatiluhur Reservoir. E3S Web of Conferences, 148: 1–4.
Septian. 2014. Sebaran
Spasial Mikroplastik Di
Sedimen Pada Pantai
Pangandaran, Jawa Barat. Jurnal Geomaritim Indonesia, 1(1):
1-8
Komentar
Posting Komentar